Hari raya Idul Fitri tiba. Bulan suci Ramadhan baru saja kita tinggalkan. Yang tak kalah penting saat merayakan hari Lebaran adalah saling mengunjungi sanak keluarga atau lebih dikenal dengan istilah silaturahim. Dalam bahasa Arab, silaturahim berarti menyambung hubungan dengan saudara sedarah.
Lebaran
atau Idulfitri, seringkali hanya menjadi ritual orang dewasa. Kekhusyukan atau
kesyahduan berlebaran lebih banyak dirasakan oleh mereka yang sudah aqil baligh
(dewasa secara agama). Idulfitri yang mengandung makna sebagai sebuah hari
kembalinya kefitrahan manusia, hanya dipahami dan termaknai secara baik oleh
mereka yang telah memiliki kemampuan pemahaman (nalar) yang tinggi.
Padahal
di luar kelompok orang tersebut, secara jelas bahwa ada anak yang dibawah usia
aqil baligh, yaitu anak-anak usia dini. Bagi kelompok anak-anak usia dini atau
anak-anak yang masih belajar di pendidikan prasekolah dan pendidikan dasar,
Lebaran kurang dapat mencapai makna yang sejati. Bahkan, kita sangat yakin
mereka tidak tahu arti Idulfitri dan kefitrahan manusia seperti bayi yang baru
lahir. Berlebaran, bagi mereka adalah suasana hari yang tidak lebih dari kesan
'selebritis' semata. Arti selebritis di sini bukan kesannya mirip kesan para
artis (atau jangan-jangan sama!), melainkan makna Lebaran bagi anak-anak kita
yang masih berada di tingkat usia pendidikan pra-sekolah maupun di tingkat
pendidikan dasar, lebih banyak memahami dan memaknai Lebaran sebagai pesta
sosial, yang penuh keceriaan, gelak tawa, penuh makanan, dan ramai.
Salah satu ajaran yang paling
berharga dari orang tua untuk anak-anaknya adalah bagaimana memaafkan orang
lain. Sebab dalam kehidupannya kelak, anak pasti akan menemui hal-hal yang
tidak menyenangkan serta menyakitkan yang tidak bisa dihindari. Selain bisa
melatih anak untuk bersikap tanggung jawab, mengucapkan kata 'maaf' kelak
bisa menghindarkan anak tumbuh menjadi pribadi pendendam yang sulit untuk
meminta dan memberikan maaf.
Pertanyaan kita saat ini, adalah bagimana ikhtiar
kita, baik sebagai seorang kakak, seorang ayah, atau seorang ibu dapat membantu
memberikan makna lebaran yang berharga bagi adik-adik kita yang masih lucu-lucu
ini? Bagaimana usaha kita untuk memaknakan lebaran sebagai hari suci kepada anak
usia dini?
Hal pertama yang dapat
dilakukan adalah memberikan pengalaman spiritual dan pengalaman sosial kepada
anak usia dini. Dalam hal ini, kata kunci dalam usaha memaknakan Lebaran kepada
anak usia ini, adalah memberikan pengalaman nyata kepada anak didik. Usaha
memberikan pengalaman nyata, merupakan usaha yang sangat penting bagi
penciptaan lingkungan anak usia ini. Bahkan, dapat dikatakan bahwa memaknakan
Lebaran kepada anak usia dini, bukanlah dengan cara menceramahi, atau berdiskusi
mengenai makna Lebaran, melainkan memberikan pengalaman spiritual atau
pengalaman sosial kepada anak didik, mengenai suasana Lebaran.
Orangtua harus melakukan pemaknaan
terhadap Idul Fitri kepada si kecil dengan
cara yang mudah dan sederhana, agar anak juga bisa menerima informasinya secara
mudah dan cepat diterapkan olehnya. Diibaratkan
seperti kertas putih, anak itu ibarat kertas putih yang tidak tahu nantinya
akan terisi apa. Hal itu sangat berkaitan dengan siapa penulisnya dan apa yang
dituliskan, termasuk pada masalah penanaman agama.
Momen Lebaran menjadi momen yang paling
tepat untuk libur dan sama-sama meminta maaf. Bagi anak-anak, momen Lebaran
dapat digunakan mengenal keluarga besar dan kerabat serta belajar berbagai
tradisi dan norma-norma sosial di lingkungan sekitarnya. Dengan berkumpul
bersama keluarga besar, anak juga akan belajar mengenai keterampilan
berkomunikasi. Ini karena, berada dalam ruangan yang terdapat beragam orang
dengan berbagai usia memerlukan suatu latihan penyesuaian tersendiri. Sambil beradaptasi,
anak juga
akan belajar untuk bersosialisasi.
akan belajar untuk bersosialisasi.
Setelah
tahu pentingnya orang lain, adanya kesadaran, empati dan mendapatkan dorongan,
orang tua juga harus menunjukkan bagaimana caranya meminta maaf. Yang paling
umum dan menjadi kebiasaan masyarakat kita adalah dengan mengungkapkan
pernyataan maaf sambil berjabat tangan dengan erat. Jika Jarak menjadi kendala
(tidak dapat bertemu langsung), permintaan maaf yang tulus juga dapat
diungkapkan melalui media-media seperti telepon, internet, surat dan sebagainya.
Akan sangat mendukung lagi jika orang tua memfasilitasi terjadinya situasi
saling memaafkan ini
Secara khusus, kebiasaan
bersilaturahmi juga menambahkan arti untuk saling memaafkan di hari Idul Fitri.
Anak menjadi terbiasa berada dalam lingkungan di mana kesanggupan untuk memberi
maaf dan meminta maaf merupakan hal penting dalam kehidupan ini. Untuk
anak-anak usia sekolah dasar (SD), maka pengertian silaturami yang dapat
diberikan oleh orangtua kepada anak sudah lebih luas dengan mengaitkan kepada
pemahaman agama. Sedangkan untuk anak-anak yang lebih muda, bisa memperkenalkan
mereka kepada saudara-saudara serta keluarga besar.
mereka kepada saudara-saudara serta keluarga besar.
Alangkah
lebih baiknya, para orang tua membawa anak-anaknya untuk berkunjung ke sanak
saudara, atau karib kerabat. Bahkan, akan lebih baik lagi, bila mereka bertemu
dengan anak-anak yang seusianya, kemudian mereka berinteraksi dengan suasana
keanak-anakan. Pertemuan antar anak-anak tersebut, akan bermanfaat bagi proses
pendidikan sosial. Bahkan, lebih jauhnya lagi, pertemuan antar anak dalam
suasana Lebaran ini, berpotensi sebagai bagian dari proses peningkatan
kecerdasan emosional anak didik. Karena dengan bertemu dengan anak seusianya,
maka setiap anak akan merasakan 'suasana hidup' Lebaran yang lebih bermakna.
Dengan memahami uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahwa suasana Lebaran pada dasarnya sangat potensial sebagai 'pesta sosial' yang dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran, pembinaan dan pembangunan karakter (character building) bagi anak-anak kita, sehingga memiliki kematangan belajar yang bisa dipercepat, dan mampu menunjukkan kematangan hidupnya. Hal yang terpenting bagi orang tua, adalah memberikan ruang pengalaman nyata, baik dengan berkomunikasi maupun dengan pempartisipasian anak dalam berbagai kegiatan Lebaran, sehingga anak memiliki pengalaman berLebaran secara psikologis, kognisi dan sosial. Semakin banyak pengalaman berLebaran anak, maka akan semakin mendukung pada usaha pemaknaan Lebaran pada anak usia dini. Semakin jarang dan jauh, dari pengalaman berLebaran, maka anak-anak hanya akan mampu menangkap Lebaran sebagai pesta petasan, dan makan ketupat. Tidak lebih dari itu.
Oleh. Diah Pianawati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar