Senin, 16 September 2019

MAKNA IDUL FITRI BAGI SIKECIL


Hari raya Idul Fitri tiba. Bulan suci Ramadhan baru  saja kita tinggalkan. Yang tak kalah penting saat merayakan hari Lebaran adalah saling mengunjungi sanak keluarga atau lebih dikenal dengan istilah silaturahim. Dalam bahasa Arab, silaturahim berarti menyambung hubungan dengan saudara sedarah.
Lebaran atau Idulfitri, seringkali hanya menjadi ritual orang dewasa. Kekhusyukan atau kesyahduan berlebaran lebih banyak dirasakan oleh mereka yang sudah aqil baligh (dewasa secara agama). Idulfitri yang mengandung makna sebagai sebuah hari kembalinya kefitrahan manusia, hanya dipahami dan termaknai secara baik oleh mereka yang telah memiliki kemampuan pemahaman (nalar) yang tinggi.
Padahal di luar kelompok orang tersebut, secara jelas bahwa ada anak yang dibawah usia aqil baligh, yaitu anak-anak usia dini. Bagi kelompok anak-anak usia dini atau anak-anak yang masih belajar di pendidikan prasekolah dan pendidikan dasar, Lebaran kurang dapat mencapai makna yang sejati. Bahkan, kita sangat yakin mereka tidak tahu arti Idulfitri dan kefitrahan manusia seperti bayi yang baru lahir. Berlebaran, bagi mereka adalah suasana hari yang tidak lebih dari kesan 'selebritis' semata. Arti selebritis di sini bukan kesannya mirip kesan para artis (atau jangan-jangan sama!), melainkan makna Lebaran bagi anak-anak kita yang masih berada di tingkat usia pendidikan pra-sekolah maupun di tingkat pendidikan dasar, lebih banyak memahami dan memaknai Lebaran sebagai pesta sosial, yang penuh keceriaan, gelak tawa, penuh makanan, dan ramai.
Salah satu ajaran yang paling berharga dari orang tua untuk anak-anaknya adalah bagaimana memaafkan orang lain. Sebab dalam kehidupannya kelak, anak pasti akan menemui hal-hal yang tidak menyenangkan serta menyakitkan yang tidak bisa dihindari. Selain bisa melatih anak untuk bersikap tanggung jawab,  mengucapkan kata 'maaf' kelak bisa menghindarkan anak tumbuh menjadi pribadi pendendam yang sulit untuk meminta dan memberikan maaf.
Pertanyaan kita saat ini, adalah bagimana ikhtiar kita, baik sebagai seorang kakak, seorang ayah, atau seorang ibu dapat membantu memberikan makna lebaran yang berharga bagi adik-adik kita yang masih lucu-lucu ini? Bagaimana usaha kita untuk memaknakan lebaran sebagai hari suci kepada anak usia dini?
Hal pertama yang dapat dilakukan adalah memberikan pengalaman spiritual dan pengalaman sosial kepada anak usia dini. Dalam hal ini, kata kunci dalam usaha memaknakan Lebaran kepada anak usia ini, adalah memberikan pengalaman nyata kepada anak didik. Usaha memberikan pengalaman nyata, merupakan usaha yang sangat penting bagi penciptaan lingkungan anak usia ini. Bahkan, dapat dikatakan bahwa memaknakan Lebaran kepada anak usia dini, bukanlah dengan cara menceramahi, atau berdiskusi mengenai makna Lebaran, melainkan memberikan pengalaman spiritual atau pengalaman sosial kepada anak didik, mengenai suasana Lebaran.
Orangtua harus  melakukan pemaknaan terhadap Idul Fitri kepada si kecil dengan cara yang mudah dan sederhana, agar anak juga bisa menerima informasinya secara mudah dan cepat diterapkan olehnya. Diibaratkan seperti kertas putih, anak itu ibarat kertas putih yang tidak tahu nantinya akan terisi apa. Hal itu sangat berkaitan dengan siapa penulisnya dan apa yang dituliskan, termasuk pada masalah penanaman agama.
Momen Lebaran menjadi momen yang paling tepat untuk libur dan sama-sama meminta maaf. Bagi anak-anak, momen Lebaran dapat digunakan mengenal keluarga besar dan kerabat serta belajar berbagai tradisi dan norma-norma sosial di lingkungan sekitarnya. Dengan berkumpul bersama keluarga besar, anak juga akan belajar mengenai keterampilan berkomunikasi. Ini karena, berada dalam ruangan yang terdapat beragam orang dengan berbagai usia memerlukan suatu latihan penyesuaian tersendiri. Sambil beradaptasi, anak juga
akan belajar untuk bersosialisasi.
Setelah tahu pentingnya orang lain, adanya kesadaran, empati dan mendapatkan dorongan, orang tua juga harus menunjukkan bagaimana caranya meminta maaf. Yang paling umum dan menjadi kebiasaan masyarakat kita adalah dengan mengungkapkan pernyataan maaf sambil berjabat tangan dengan erat. Jika Jarak menjadi kendala (tidak dapat bertemu langsung), permintaan maaf yang tulus juga dapat diungkapkan melalui media-media seperti telepon, internet, surat dan sebagainya. Akan sangat mendukung lagi jika orang tua memfasilitasi terjadinya situasi saling memaafkan ini
Secara khusus, kebiasaan bersilaturahmi juga menambahkan arti untuk saling memaafkan di hari Idul Fitri. Anak menjadi terbiasa berada dalam lingkungan di mana kesanggupan untuk memberi maaf dan meminta maaf merupakan hal penting dalam kehidupan ini. Untuk anak-anak usia sekolah dasar (SD), maka pengertian silaturami yang dapat diberikan oleh orangtua kepada anak sudah lebih luas dengan mengaitkan kepada pemahaman agama. Sedangkan untuk anak-anak yang lebih muda, bisa memperkenalkan
mereka kepada saudara-saudara serta keluarga besar.
Alangkah lebih baiknya, para orang tua membawa anak-anaknya untuk berkunjung ke sanak saudara, atau karib kerabat. Bahkan, akan lebih baik lagi, bila mereka bertemu dengan anak-anak yang seusianya, kemudian mereka berinteraksi dengan suasana keanak-anakan. Pertemuan antar anak-anak tersebut, akan bermanfaat bagi proses pendidikan sosial. Bahkan, lebih jauhnya lagi, pertemuan antar anak dalam suasana Lebaran ini, berpotensi sebagai bagian dari proses peningkatan kecerdasan emosional anak didik. Karena dengan bertemu dengan anak seusianya, maka setiap anak akan merasakan 'suasana hidup' Lebaran yang lebih bermakna.

Dengan memahami uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahwa suasana Lebaran pada dasarnya sangat potensial sebagai 'pesta sosial' yang dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran, pembinaan dan pembangunan karakter (character building) bagi anak-anak kita, sehingga memiliki kematangan belajar yang bisa dipercepat, dan mampu menunjukkan kematangan hidupnya. Hal yang terpenting bagi orang tua, adalah memberikan ruang pengalaman nyata, baik dengan berkomunikasi maupun dengan pempartisipasian anak dalam berbagai kegiatan Lebaran, sehingga anak memiliki pengalaman berLebaran secara psikologis, kognisi dan sosial. Semakin banyak pengalaman berLebaran anak, maka akan semakin mendukung pada usaha pemaknaan Lebaran pada anak usia dini. Semakin jarang dan jauh, dari pengalaman berLebaran, maka anak-anak hanya akan mampu menangkap Lebaran sebagai pesta petasan, dan makan ketupat. Tidak lebih dari itu.
Dimuat di MPA September 



 Oleh. Diah Pianawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar