Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan.
Itu yang saya baca dari sebuah buku. Jika saya renungkan, memang demikian.
Tangan seorang ibunda adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran,
cinta, ketulusan.. Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di
meja makan untuk sarapan? Pernahkah Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika
mendoakan anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup?
Pernahkah Ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur
kita? Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan
tangannya?..Pernahkah..?
Adakah saat ini kita trenyuh mengenangkannya? Ia
adalah sebuah anugerah terindah yang dimiliki setiap manusia. Sejak dalam
rahim, betapa cinta itu tak putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi.
Hingga kerelaan, keikhlasan dan kesabaran selama 9 bulan pun bagai menuai
pahala seorang prajurit yang sedang berpuasa, namun tetap berperang di jalan
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Selaksa cinta ibunda yang dibaluri tsaqofah
Islamiyah (wawasan keislaman) telah menyemai banyak pahlawan Islam. Teladan
Asma' binti Abu Bakar Ash-Shidiq melahirkan pahlawan Abdullah bin Zubair, yang
dengan cintanya masih berdoa agar dirinya tidak mati sebelum mengurus jenazah
anaknya yang disalib Hajaj bin Yusuf, antek Bani Umaiyah. Polesan warna seorang
ibunda, Al Khansa, melahirkan putra-putra kebanggaan Islam yang berani dan
luhur akhlaqnya, hingga satu persatu syahid pada perang Qodisyiah. Di sela
kesedihannya, ibunda masih berucap, "Alhamdulillah... Allah telah
mengutamakan dan memberikan karunia padaku dengan kematian anak-anakku sebagai
syuhada. Aku berharap semoga
Allah mengumpulkan aku dengan mereka dalam rakhmad-Nya kelak.
Bagaimana mulianya
seorang ibu, entah seperti apapun anaknya. Tidak ada sekolah khusus untuk
menjadi ibu, seperti sekolah menjadi dokter,perawat, guru dan atau berbagai
profesi lainnya. Memang ada berbagai seminar dan buku-buku tentang menjadi ibu
yang baik, atau tentang bagaimana mendidik anak dan berbagai tema yang
berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab seorang ibu. Namun tetap saja itu
bukanlah sebuah sekolah dan tidak pernah cukup untuk mempersiapkan dan
melengkapi seorang wanita untuk menjadi ibu. Menjadi ibu adalah sebuah
kehormatan, sebuah pelayanan yang tidak tampak di muka umum namun memiliki
tanggung jawab yang tidak mudah untuk dilakukan. Menuntut pengorbanan dan
kerelaan hati. Menyita 24 jam jatah hidup kita, dalam 7 hari seminggu, 52
minggu setahun, dan berbeda
dengan yang mungkin dialami oleh para pekerja kantor dengan fasilitas cuti,
menjadi seorang ibu tidak ada istilah cuti walau bagaimanapun kita lelah dan
penat.
Polesannya terbukti dengan adanya
warna dasar pada diri kita. Menggores sebuah kanvas putih nan suci, hingga
tercipta lukisan Yahudi, Musyrik atau Nasrani. Namun, goresan yang diselimuti
untaian ayat suci Al Qur'an, zikir, tasbih serta tahmid, tentu akan melahirkan
syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) pada jiwa. Ibunda pun berharap
tercipta jundullah (tentara Allah) dari sebuah madrasah keluarga.
Menjadi ibu
berarti selalu siap mengulurkan tangan menjawab kebutuhan anak, tidak peduli
rasa letih menguasai tubuh. Memberikan pelukan hangat di saat anak merasakan
kesepian. Menghibur anak kala mereka bersedih, mendorong penuh semangat ketika
mereka gagal, dan selalu memberikan yang terbaik untuk mereka dalam keadaan
atau situasi seperti apapun.
Seorang ibu
membentuk karakteristik anak didiknya. Ibu tidak akan menjerumuskan kita dalam
hal-hal yang membahayakan kita. Kadang memang seorang anak beda pendapat dengan
ibunya. Tahukah kamu bahwa semua yang ibu lakukan adalah demi kebahagiaan kita
kelak jika sudah beranjak dewasa.
Mulianya seorang ibu digambar jelas dalam Al Qur’an seperti yang tersurat sbb: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)." (QS. Al AhQaaf 46:15)
"Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan
lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah
kembalimu." (QS.
Luqman 31:14)
Dan bukti kecintaan Rasulullah kepada Ibu, dapat dilihat dibawah ini, Dari
Fadhal r.a, katanya: Seorang perempuan dari Khats'am bertanya kepada Rasulullah
Saw, katanya: " Ya, Rasulullah! Bapakku sudah tua renta, kepadanya
terpikul kewajiban menunaikan ibadah haji, sedangkan dia sudah tak sanggup
duduk di punggung untanya, bagaimana itu? Jawab Rasulullah Saw,
"Hajikanlah dia olehmu!" Dari Aisyah r.a., katanya : Seorang
laki-laki datang bertanya kepada Rasulullah Saw, " ya Rasulullah! Ibuku
meninggal dengan tiba-tiba dan beliau tidak sempat berwasiat. Menurut dugaanku,
seandainya dia sempat berbicara, mungkin dia akan bersedekah. Dapatkah beliau
akan pahalanya jika aku bersedekah atas nama beliau?" Jawab Rasulullah
Saw, " Ya, dapat!" Dari Ibnu Abbas r.a., katanya: "Sa'ad bin
Ubadah pernah minta fatwa kepada Rasulullah Saw. Tentang nazar ibunya yang
telah meninggal, tetapi belum sempat ditunaikannya. Maka bersabda Rasulullah
Saw, "Bayarlah olehmu atas namanya!" " Bagaimana jika Orangtua
kita menyuruh untuk mepersekutukan Allah? "Allah Berfirman: "Dan jika
keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS Luqman 31:15).
Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirinya, sorak sorai
pesona dunia tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat ibu memeluk
kita. Indah...semua begitu indah dalam alunan cintanya, menelisik lembut,
membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangnya.
Ibunda........
Bukakanlah pintu ridhomu, hingga Allah pun meridhoiku.
Bukakanlah pintu ridhomu, hingga Allah pun meridhoiku.
Oleh. Diah Pianawati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar